Ketika Remaja Sulit Fokus: Memahami Atensi dan Kelelahan Mental

Remaja yang tampak sulit fokus kerap dianggap kurang disiplin atau tidak memiliki niat belajar. Label “malas” pun dengan cepat dilekatkan ketika mereka terlihat mudah bosan, lambat menyelesaikan tugas, atau kesulitan berkonsentrasi. Padahal, kehilangan fokus tidak selalu berkaitan dengan kemauan. Dalam banyak kasus, hal ini berhubungan erat dengan kondisi mental dan cara kerja otak yang terus-menerus terpapar rangsangan.


Dalam kajian psikologi, fokus berkaitan dengan atensi, yaitu kemampuan otak untuk memilih satu informasi dan mengabaikan yang lain. Atensi bekerja optimal ketika lingkungan relatif stabil dan pikiran memiliki ruang untuk memproses informasi secara bertahap. Namun, pada kehidupan remaja masa kini, otak sering dihadapkan pada berbagai rangsangan sekaligus—notifikasi gawai, layar yang terus menyala, suara, serta tuntutan sosial yang datang tanpa jeda.


Kondisi inilah yang dikenal sebagai overstimulasi. Ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu bersamaan, kemampuan untuk mempertahankan atensi menjadi melemah. Akibatnya, fokus mudah teralihkan, meskipun remaja sebenarnya memiliki kemampuan untuk memahami materi yang dihadapi. Dalam situasi ini, masalahnya bukan pada kecerdasan atau kemauan, melainkan pada kapasitas mental yang sudah bekerja terlalu keras.


Saat otak terus berpindah dari satu perhatian ke perhatian lain, ia cenderung masuk ke dalam mode bertahan, bukan mode belajar. Energi mental cepat terkuras karena otak tidak memiliki kesempatan untuk memproses informasi secara mendalam. Inilah sebabnya remaja sering tampak mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan cepat merasa bosan, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya sudah mereka pahami atau minati.


Memahami kondisi ini membantu kita melihat remaja dengan sudut pandang yang lebih adil. Alih-alih terburu-buru menghakimi, diperlukan pendekatan yang lebih memahami cara kerja otak mereka. Memberi ruang jeda, mengurangi rangsangan yang berlebihan, serta membangun ritme belajar yang realistis dapat membantu fokus pulih secara bertahap.


Pada akhirnya, kehilangan fokus bukanlah tanda kemalasan, melainkan sinyal bahwa otak sedang kelelahan. Dengan berhenti melabeli dan mulai memahami tantangan yang dihadapi remaja, proses belajar dapat kembali menjadi pengalaman yang lebih manusiawi, sehat, dan bermakna baik bagi remaja itu sendiri maupun bagi lingkungan di sekitarnya.

Ingin menjadi versi terbaik dari dirimu?

Bergabunglah dengan komunitas kami dan dapatkan akses ke berbagai sumber daya yang akan membantumu mencapai tujuanmu.