Kenapa Remaja Lebih Mau Mendengar Teman daripada Orang Tua
Fenomena ini sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Orang tua merasa nasihatnya tidak lagi didengar, sementara remaja terlihat lebih percaya pada pendapat teman. Dari luar, perubahan ini tampak seperti penolakan terhadap keluarga. Namun yang sebenarnya sedang terjadi adalah pergeseran kebutuhan yang wajar dalam proses tumbuh kembang.
Dalam ilmu sosial dikenal konsep social belonging. Social belonging adalah kebutuhan untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompoknya. Pada masa remaja, kebutuhan ini menjadi sangat kuat. Remaja mulai menguji identitasnya di luar rumah. Ia tidak lagi hanya melihat dirinya sebagai anak dari orang tuanya, tetapi sebagai individu yang memiliki posisi di antara teman sebaya.
Ketika teman mengatakan sesuatu, remaja tidak hanya mendengar isi pesannya. Ia juga membaca sinyal sosial yang menyertainya. Ia belajar memahami apa yang diterima, apa yang dianggap wajar, dan bagaimana cara bertahan di dalam kelompok. Di sinilah fungsi teman menjadi penting. Kelompok sebaya menjadi ruang latihan untuk memahami dunia sosial yang lebih luas.
Nasihat orang tua sering tetap benar dan masuk akal. Namun pesan itu datang dari ruang yang sudah tidak lagi menjadi pusat penerimaan sosial bagi remaja. Bukan berarti keluarga tidak penting. Hanya saja, pusat validasi diri mulai bergeser. Remaja ingin tahu apakah dirinya bisa diterima di luar lingkaran keluarga. Proses ini membuat pendapat teman terasa lebih relevan dalam situasi tertentu.
Bagi orang tua, situasi ini bisa terasa menyakitkan. Seolah nilai yang ditanamkan selama ini tidak lagi dihargai. Namun bagi remaja, ini adalah upaya menyesuaikan diri agar tidak terasing. Ia sedang belajar membaca dinamika sosial, memahami posisi, dan membangun rasa percaya diri di lingkungan yang berbeda dari rumah.
Memahami social belonging membantu kita melihat bahwa jarak ini bukan soal menolak nilai keluarga. Yang terjadi adalah proses membangun identitas di dunia sosial yang baru. Ketika orang tua menyadari pergeseran ini, respons pun bisa menjadi lebih tenang. Alih alih bersaing dengan teman sebaya, orang tua dapat tetap menjadi tempat kembali yang aman.
Dengan cara ini, remaja tidak perlu memilih antara keluarga atau teman. Ia dapat belajar bahwa ia tetap diterima di rumah, sekaligus mampu berdiri di tengah kelompoknya.


