Mengapa Nasihat Baik Sering Tidak Masuk ke Kepala Remaja

 Banyak orang tua dan pendidik memberi nasihat dengan niat yang tulus. Tujuannya agar remaja tidak salah langkah, lebih bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik. Namun dalam praktiknya, nasihat yang baik sering tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan. Remaja terlihat menolak, menjawab singkat, atau bahkan menghindari percakapan. Situasi ini kerap ditafsirkan sebagai tidak mau mendengar. Padahal persoalannya sering bukan pada isi nasihat, melainkan pada cara remaja merespons tekanan yang menyertainya.


Dalam psikologi dikenal konsep resistance. Resistance adalah respons alami ketika seseorang merasa kendalinya terancam. Respons ini bukan bentuk pembangkangan yang disengaja, melainkan mekanisme perlindungan diri. Pada masa remaja, resistance lebih mudah muncul karena kemampuan mengelola diri dan emosi masih berkembang. Di sisi lain, kebutuhan untuk merasa mandiri dan dihargai sebagai individu semakin kuat. Ketika nasihat datang dengan nada yang terasa mengatur atau menilai, otak remaja bisa langsung membaca situasi itu sebagai ancaman terhadap kemandiriannya.


Saat dinasihati, remaja sering tidak langsung memproses isi pesan secara rasional. Yang lebih dulu dirasakan adalah suasana emosionalnya. Apakah ia merasa dipahami atau disalahkan. Apakah ia merasa diajak berdiskusi atau sedang diperintah. Jika yang tertangkap adalah tekanan, otak akan masuk ke mode bertahan. Energi mental digunakan untuk menjaga harga diri dan posisi, bukan untuk mencerna isi pesan. Dalam kondisi seperti ini, bahkan nasihat yang masuk akal pun sulit diterima.


Dari luar, perilaku ini terlihat seperti tidak peduli atau keras kepala. Padahal di dalam dirinya sedang terjadi proses mempertahankan kendali. Remaja mungkin merasa bahwa menerima nasihat berarti mengakui bahwa ia salah atau tidak mampu. Bagi orang dewasa, ini mungkin tampak sederhana. Namun bagi remaja yang sedang membangun identitas diri, perasaan tersebut bisa sangat kuat.


Memahami resistance membantu kita melihat dinamika ini dengan lebih tenang. Kegagalan nasihat sering bukan karena pesannya kurang baik, melainkan karena disampaikan pada saat kontrol diri remaja sedang rapuh atau dalam suasana yang membuatnya merasa ditekan. Cara penyampaian dan waktu menjadi sama pentingnya dengan isi pesan.


Pendekatan yang lebih efektif biasanya dimulai dari mendengar lebih dulu. Ketika remaja merasa dipahami, kebutuhan untuk bertahan berkurang. Dalam ruang yang lebih aman, ia lebih siap menerima sudut pandang lain. Nasihat tidak lagi terasa seperti perintah, tetapi seperti dukungan. Perubahan tidak terjadi seketika, namun peluang untuk benar benar didengar menjadi jauh lebih besar.


Dengan memahami cara kerja ini, kita tidak perlu berhenti memberi arahan. Yang perlu diubah adalah cara dan konteksnya. Ketika tekanan dikurangi dan relasi diperkuat, nasihat memiliki kesempatan lebih besar untuk masuk dan diproses dengan jernih.

Ingin menjadi versi terbaik dari dirimu?

Bergabunglah dengan komunitas kami dan dapatkan akses ke berbagai sumber daya yang akan membantumu mencapai tujuanmu.